Jumat, 02 April 2010

Video Sinetron SCTV


 

video Film Manca negara


indoseleb — June 03, 2008 — Film ini dibuat untuk jadi inspirasi dan bekal masyarakat, khususnya generasi muda terhadap fenomena aliran sesa...







 
 
 Like
 
Save to 
 Share
Loading...
Post a comment
Highest Rated Comments
zeux7 terus maunya film yang bertema seks terus ya? mau nya film yang ga bermoral terus ya? ..! ga suka yaa ga usah nonton, gitu aja repot 5 
patrasantana Mudah2an dengan banyaknya film2 religi seperti ini moral,keimanan,cara berfikir,dan cara pandang terhadap Islam anak bangsa kita menjadi lebih baik.
Amiin............ 3 
Most Recent Comments see all
rudyigor @pengendownload gak di indonesia aja di arab juga udah ribut islam suni sma islam syi'ah....
rudyigor @finalrevelations bukan di bunuh tapi di sadrkan......
mangkau88 perangai mcm setan x layak mengaku manusia biasa...inikan pula mahu gelaran rasul...nama haiwan pun x layak
desertsky91 mmg benar rasul dplih dr kalangan lelako tp rasul itu specific hnya utk manusia yg dpilih Allah. lelaki dciptakn sebagai Khalifah dmuka bumi bknnye rasul. wallahu'alam.
pengendownload Bukannya Muhammad juga mengaku rasul?
Satu2nya nabi arab.
Indonesia udah sesat, semakin sesat!
rudyigor @pengendownload gak di indonesia aja di arab juga udah ribut islam suni sma islam syi'ah....
fly2mcfly orang indon ni sangat bangan
azrilazlan semua manusia lelaki adalah rasul
azrilazlan cek balik ape mksud rasul 2...
saffone100 ape bukti kalau ko mengaku rasul..?? 3 months ago
1
2
3
4
5  Next
 Reply
 
 
 
Welcome to the new video page!

You can take a quick tour of the page's new features.

Learn more or Dismiss
0:34

ayah pin
12,948 views
tapai99
9:50

BONGKAR KESESATAN KRISTIAN
32,555 views
alhadith
2:28

[INFO SELEB] Kecelakaan film Mengaku Rasul. 08/...
52,114 views
bursaartis
9:22

Mengaku Rasul Part 1
36,941 views
MizzPinkstudioMovie
3:33

Rasul / Nabi palsu bertambah lagi
14,339 views
jagatTV
6:57

Kesalahan Sholat, 2 of 2
24,548 views
belajarsholat
1:47

Sumpah Pocong di Sekolah - Trailer
156,171 views
indoseleb
8:52

Nabi Palsu
19,343 views
laluansutera2
0:10

SYIRIKKKK! Minta tolong dari BERHALA - Latta d...
42,751 views
tajdidsegar
6:43

aliran sesat di indonesia
58,066 views
korwilchonan
0:59

Pengikut Al-Qiyadah Tobat
36,127 views
bemuslim
10:01

Imam Syafie Haramkan Kenduri Arwah, Tahlil (1/7)
53,985 views
nasiruddien
0:15

Ajaran Sesat
197,461 views
mosenIIIT
1:10

Ayah Pin Baru-Baru Ini Berada Di Terengganu, Ka...
23,936 views
paskemaman
5:26

360 - Ajaran Sesat - Rasul Melayu Hj. Kahar
23,013 views
AGKahfi
1:27

ajaran sesat
12,826 views
nora6783
7:41

Sesatkah Ahmadiyah pt 1
9,019 views
puterapanas
12:43

The Sky Kingdom - Malaysia
39,135 views
journeymanpictures
4:47

AJARAN SESAT KEMBALI - ILMU TASAWUF MODEN
10,076 views
warighmenuang
4:21

Film:"Mengaku Rasul" (Launching and Trailer ), ...
25,855 views
kabari07
Help About Safety Privacy Terms Copyright Uploaders & Partners Developers Advertising
Language: English Location: Worldwide Safety mode: Off

Resensi Film mancanegara

Resensi Film Indonesia
sebuah Katalog film Indonesia
Archive for the ‘Resensi Film Mancanegara’ Category
Avatar -2009-
Tuesday, December 22nd, 2009



Sutradara :James Cameron
Produser :James Cameron, Jon Landau, Produksi :20th Century Fox
Jenis Film :Action/animation
Pemain :Sam Worthington, Zoe Saldana, Sigourney Weaver, Michelle Rodriguez, Stephen Lang, Joel David Moore

Di masa depan, Jake (Sam Worthington) seorang veteran perang yang telah lumpuh sebagian tubuhnya direkrut ke planet Pandora yang dihuni suku Na’Vi untuk menyelidiki kandungan mineral disana. Karena manusia tidak dapat menghirup udara di negeri Pandora, maka mereka menciptakan makhluk-mirip-suku Na’vi yang mereka sebut sebagai Avatar. dengan tubuh Avatar, Jake dapat berjalan kembali. Di hutan Pandora, Jake melihat banyak keindahan dan bahaya. Ia juga bertemu dengan wanita muda Na’vi bernama Neytiri (Zoe Saldaña).

Berjalannya waktu, Jake berbaur dengan suku Na’vi dan jatuh cinta kepada Neytiri. Pada akhirnya, Jake terjepit antara tujuannya dikirim oleh militer ke Pandora dan suku Na’vi, memaksanya untuk memihak pada satu pilihan yang akan menentukan nasib bumi dan suku Na’vi.

Penilaian:

Film yang jelas jauh dari kata mengecewakan, seperti film-film james Cameron sebelumnya seperti terminator (1986) walaupun film sci-fi tahun 86  tapi kalau kita lihat sekarang “masih enak dilihat”  , Titanic-film yang menurut banyak pihak merupakan film  sepanjang masa (waw) dll. Film avatar juga membawa kita terhanyut kesebuah dunia baru, dimana kita dibuat terhanyut kedalam perasaan penasaran peran utama dalam melihat sesuatu yang baru-planet baru. dengan banyak perbedaan yang indah yang sangat tergambarkan dengan sangat apik oleh gambar (kostum, efek, cgi, dll)kita juga dibuat memihak “ras planet” ini daripada ras kita sendiri- manusia.

menurut saya film ini sexi, eksotis (weleh) 3 jempol lah (snaire)

Posted in Great Movie - Film Bagus, Resensi Film Mancanegara | No Comments »
Search for:
 
Filmnesia
» HOME
RESENSI
» Great Movie – Film Bagus
» Resensi Film Indonesia
» Resensi Film Mancanegara
KATALOG FILM
» Katalog Film Indonesia
» Katalog Film Mancanegara
» Katalog Film Pilihan
Archives
» December 2009
» December 2007
» December 1929
» December 1928
» December 1927
» December 1926

Resensi Film Indonesia is proudly powered by WordPress
Entries (RSS) and Comments (RSS).

Resensi Film Indonesia

Politik dan Queen Bee:


Sekali Menyengat, Sesudah Itu…?

oleh Ifan Adriansyah Ismail

Redaktur Rumahfilm.org, Jakarta

06/26/2009 16:24:31



Mengajak generasi muda kita untuk ikut peduli politik barangkali sama saja dengan melarang Metromini ngetem di tengah jalan. Nyaris mustahil. Selain itu, apa pula faedahnya? Setidaknya jika Metromini tertib, lalu lintas bisa sesaat lebih lancar. Kalau peduli politik apanya yang lebih lancar? Sikut-menyikutnya, barangkali? Atau sirkusnya?



Tidak heran jika dalam film Queen Bee, anak muda semacam Queenita Siregar (Tika Putri) pun memilih abai terhadap dunia politik, meskipun ayahnya sendiri, Rahmat Siregar (Mathias Muchus) adalah kandidat kuat presiden Indonesia. Baginya politik itu inkarnasi dari segala hal yang membosankan dan “enggak banget”. Apa lagi statusnya sebagai putri tunggal capres malah menjadikan kebebasannya berhura-hura terganggu. Harus jaga image-lah. Harus dikawal-lah. Tidak peduli sang pengawalnya setampan Oka Antara, bagi Queenita dikawal ke mana-mana itu menyebalkan.



Film Queen Bee adalah debut layar lebar sutradara Fajar Nugros, dibantu oleh produser Bernhard Subiakto dan Salman Aristo, bersama Ginatri S. Noer sebagai penulis skenario. Di dalam narasinya, kekesalan Queenita terhadap peraturan protokoler yang mengikat keluarganya tentu bukan satu-satunya jalan cerita. Masih ada problem lain, seperti tidak adanya rasa percaya di antara dirinya dan ayahnya; pria bernama Braga (Reza Rahadian) yang too good to be true, dan setetes dua tetes bumbu thriller. Intinya, Queenita yang modis dan ceria ini sesungguhnya hanya ingin melewati masa mudanya dengan kebebasan, kepercayaan dan having fun. Tapi dia pun ternyata dituntut untuk menjadikan masa mudanya lebih bermakna. Caranya?



Di sinilah film Queen Bee bukan hanya sekadar film gejolak anak muda. Dia mengusung sebuah tema yang jauh lebih berat, dan mungkin juga dianggap lebih penting: mengajak anak muda peduli politik.



Apa?



Yang benar saja. Mau tidak mau, teringatlah kita kembali kepada tugas melarang Metromini ngetem tadi.



Politik? (Seharusnya) iya banget...!

Bukan rahasia jika politik menjadi hal terakhir yang menjadi perhatian anak muda, seakan-akan tidak ada yang bagus dari politik. Tidak bisa disalahkan memang, persepsi miring itu. Sepanjang sejarah Indonesia, politik nyaris selalu tampil dalam tampang buruknya. Di era Orde Lama, politik digariskan sebagai panglima, tapi sekaligus menelan semua aspek kehidupan. Yang tidak berpolitik disisihkan. Yang jalur politiknya salah tamat riwayatnya. Ini pengalaman buruk pertama. Di era Orde Baru, politik digunakan hanya sebagai peranti penindas kebebasan. Ini pengalaman buruk kedua. Di era reformasi, politik jadi ajang sirkus yang hanya menghibur pelakunya. Ini pengalaman buruk ketiga. Astaga, apakah belum cukup alasan bagi anak muda untuk menjauhi politik?



Sayangnya (dan untungnya), tidak. Politik, mengutip Goenawan Mohamad, adalah tugas sedih kemanusiaan. Politik adalah tata cara yang diperlukan, sebuah tugas yang niscaya karena faktanya, manusia harus hidup berdampingan dan tidak ada isi kepala manusia yang betul-betul sama. Perkara bahwa politik telah dijadikan ajang sirkus tidak menutup kewajiban bahwa politik tetap harus dilakukan. Di tengah kondisi Indonesia yang kacau balau seperti sekarang, masuk akal jika politik terpaksa diceburi dan harus direbut dari orang-orang yang menjadikannya ajang cari untung pribadi. Lalu apa jadinya jika generasi mudanya kadung ogah berpolitik?



Apa boleh buat, jaman kita adalah jamannya anak muda berkubang di era informasi, bersenang-senang, jamannya hipster, internet, iPod, musik asyik dan segala hal yang rentan dituduh eskapis. Dengan segala hormat kepada anak muda (dari saya yang mulai menua ini), berhura-hura, ikut rave party, dan menjadi fashion minded tampaknya memang menjadikan kita kebal terhadap ajakan lain apa pun. Sehingga cara film Queen Bee mengajak penontonnya ikut peduli menjadi penting.



Industri Kreatif

Alkisah, dalam rangka saling memahami, Queenita mengikuti kegiatan politik ayahnya berkampanye. Dari sini, Queen Bee menyusupkan tema di mana Queenita memiliki usaha pembuatan kaos dan barang fashion. Pendek kata, dia bergerak di bidang industri kreatif. Aha. Lahan industri kreatif yang dikuasai anak muda inilah yang dirasa bisa dijadikan titik tolak untuk menggenjot kepedulian anak muda di bidang politik. Dikisahkan Queenita mengajak kawan-kawan kerjanya bertatap muka dengan para calon pemimpin negeri, saling menyadarkan bahwa mereka saling membutuhkan. Bukankah dari industri ini Indonesia bisa menaikkan daya tawar? Bukankah dari industri ini pula Indonesia berpotensi untuk bukan lagi jadi bangsa konsumen semata?



Yang patut dicermati dan menyegarkan, film ini dengan jitu menyinggung kekesalan sementara kita terhadap “garing”-nya komunikasi politik Indonesia. Yaitu sebuah kondisi maha garing yang menjadikan beribu-ribu sarjana komunikasi dan desain tidak berpengaruh sama sekali, ketika birokrat pemerintah masih saja menggunakan foto diri nyengir kuda, menggunakan pengeras suara keliling dan tata letak desain yang merusak mata. Di Queen Bee, diceritakan materi kampanye sang ayah dirancang ulang oleh Queenita dan kawan-kawannya menjadi lebih segar dan memikat. Rasanya semakin ingin berteriak saja: “majulah industri kreatif Indonesia!”



Tunggu dulu, tunggu dulu.



Lalu apa hubungannya kegiatan politik anak muda kreatif ini dengan filosofi politik sebagai tata manusia tadi? Ternyata tema “industri kreatif” dijadikan pilihan karena, mengutip Salman Aristo, merupakan semacam pengait yang bisa mencantel kepedulian anak muda. Pikat mereka melalui apa yang mereka suka, begitu barangkali resepnya. Perkara apakah nanti pemirsa sasarannya mendadak sadar seperti di drama TVRI akan pentingnya politik, nanti dulu. Mari berharap saja semoga mereka tidak sekali lagi merasa tertipu oleh yang namanya politik.



Petunjuk akan potensi lebih dalamnya politik hanya ditunjukkan lewat adegan Queenita, sang ayah dan rombongannya berhenti di sebuah desa yang terkena bencana. Adegan ini agak mengganggu. Tampilannya lebih mirip adegan reality show eksploitasi kemiskinan yang sedang marak di TV, lengkap dengan wajah memelas bapak-bapak tua, ibu-ibu berpakaian kumal dan anak-anak kampung yang dekil. Apakah kita para penikmat film masih saja terdiri dari kelas menengah yang jarang tersentuh oleh kondisi seperti ini? Apakah kita masih harus bergantung kepada sudut pandang turistik seperti ini dalam memandang kemiskinan?



Belum lagi bisa saja diajukan argumen bahwa “keberpolitikan” anak muda melalui industri ini sebetulnya bermula dari keterpaksaan. Karena yang namanya industri mau tidak mau harus bersentuhan dengan dunia politik. Kalau bisa tidak berpolitik, jangan-jangan mereka tetap lebih memilih tidak usah saja. Mungkin ada pemikiran: daripada tidak bisa memancing sama sekali, bukan? Akankah berlebihan untuk berharap bahwa kelak ada Queen Bee 2 untuk mau terjun lebih dalam, dan menindaklanjuti ajakannya berpolitik?



The Medium is a Mess…

Sayang sekali, upaya Queen Bee seakan terhenti di sini. Perlu diingat: niat, ide dan pelaksanaan adalah tiga hal yang berlainan. Dalam hal niat dan ide, Queen Bee patut diapresiasi. Dalam hal pelaksanaan, seribu sayang, terasa film ini digarap terburu-buru. Sebagai film yang menyasar anak muda sebagai pemirsa utama, alur cerita Queen Bee anehnya terasa terseret-seret selama hampir ¾ bagian pertamanya. Apakah anak muda juga sedang dididik untuk melawan kebosanan juga?



Ketika tensi cerita mulai naik pun, kita rasanya sah bertanya: kenapa juga Queenita bersusah payah membuktikan sendiri bahwa dia tidak mengkorupsi uang ayahnya? Bukankah ada pasukan yang bisa dia suruh-suruh? Atau kalau dia menyuruh seseorang jadinya tidak seru? Hal-hal kecil seperti inilah yang sayangnya masih terasa mengganjal. Juga dalam hal-hal semacam tetek bengek protokoler. Memang ranah fiksi Indonesia seringkali masih kekurangan bahan untuk mengaduk-aduk isi jerohan prosedural protokol negara. Kita lebih banyak dimanja berbagai tontonan yang menunjukkan cara kerja FBI, CIA, dan Secret Service misalnya, zonder khazanah dari Indonesia. Setidaknya, seharusnya sebagai penonton saya boleh mengharap ada sedikit penjelasan, apakah memang capres sudah seharusnya dikawal Paspampres atau cukup oleh polisi? Atau jangan-jangan ada satuan khusus yang tidak saya ketahui yang bernama PaspamCapres?



Pada intinya, untuk menggulirkan cerita dan pesannya, digunakan format teenage flick dan sedikit thriller politik plus drama keluarga. Unsur komedi dan tema ketidakpercayaan diceritakan lewat plot pengawal yang mengikuti Queenita ke mana-mana. Lalu tak lupa intrik berbau politik untuk memaksa Queenita melalui jalan terjal, berpetualang, untuk kemudian diselamatkan sang pengawal dan sang ayah.



Tentu saja piranti cerita semacam ini sah digunakan, tapi ia masih terasa bagai air dan minyak ketika dicampurkan dengan pesan utama filmnya. Sepanjang film terasa ada keengganan untuk menggali lebih dalam karakter Queenita sendiri. Di sini kita tidak akan tahu dia cerdas dan susah diatur jika aparat pengawal itu tidak menyebutkannya.



Yang lebih fatal adalah keengganan untuk lebih mendalami tema seriusnya dan merajutnya dengan lebih rapi lagi dengan jalinan cerita. Repotnya, luka paling menganga dari film ini justru terletak di pesan utama tadi. Entah bagaimana, di tengah montase yang menunjukkan usaha Queenita memajukan industri kreatif, penonton disuguhi kultum tokoh kita ini (memang tidak tujuh menit, tapi you got the point-lah), sedang berceramah tentang potensi anak muda bagi kemajuan Indonesia. Astaga. Kenapa perlu ada segmen yang über-preachy seperti ini? Apakah filmmaker-nya tidak percaya diri dengan pesan yang dibawanya sendiri sehingga harus ada bagian itu? Dugaan terkuat, mereka tidak percaya diri lebih kepada metodenya. Selain itu, jika tidak ada segmen ini, dan juga dialog pengarahan pengawalan dari komandan tadi, sejujurnya Queenita belum terlihat cerdas.



Di satu sisi, ada tema penting yang diusung Queen Bee, yaitu mengajak anak muda kembali peduli pada politik. Di sisi lain, ada kebutuhan bercerita yang entah kenapa seperti terpaksa menggunakan alat-alat bercerita dan alur yang nyaris usang, bahkan lengkap dengan tokoh comic relief-nya, si sekretaris Silvi (Sarah Sechan) yang juga entah kenapa, cenderung alkoholik.



Agaknya Queen Bee masih agak terhuyung-huyung membawa tema berat itu, apalagi dengan memikul beban tambahan: ceritanya bertolak dari dunia anak muda yang digambarkannya sendiri masih suka berhura-hura dan apatis terhadap apa pun. Ketika terjeblos sekali, ternyata lubangnya besar, yaitu segmen ceramah yang dipaksakan tadi.



Semoga saja kekurangan ini tidak lantas melukai sebegitu parah. Semoga saja Queen Bee tidak perlu bernasib seperti lebah, yang sekali menyengat, sesudah itu mati. Karena, sayang sekali, niat dan idenya yang terlanjur berpotensi, dirusak oleh pelaksanaannya yang gegabah dan buru-buru. Terus terang, saya merasa gatal harus menggugat satu hal yang mendasar: bagi Queenita, politik itu sebetulnya apa sih?





* * *



Post-Scriptum:

Doppelgänger saya nyeletuk sambil menghisap madu, ”tahu nggak, Fan, aku malah tidak melihat ada hubungan apa-apa antara Queenita sama ke-ratu-annya. Aku kira soundtrack-nya Ratu kek atau apa, kek, eh, enggak juga. Trus sama lebah hubungannya apa, coba?”

“Kedengaran keren aja, kali?” tukasku.

“Enak saja. Ga bisa gitu dong. Penamaan dalam film itu kan harus blablabla…”

Dia mengoceh terus, dan tidak melihat kepalanya akan menabrak sarang tawon.



Resensi lainnya
Awal tulisan







awal
resensi
wawancara
artikel
esai
kabar terkini
filmsiana
agenda
hubungi kami
peta situs

XML
Subscribe to RumahFilm.org by Email

Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.

Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik

© 2007 rumahfilm.org

Kamis, 01 April 2010

Video Film Perang


150
views
150
views
primathesniper March 16, 2010The Hurt Locker adalah film perang Amerika Serikat 2008. Film ini berkisah mengenai tim Explosive Ordnance Dispo...
primathesniper March 16, 2010The Hurt Locker adalah film perang Amerika Serikat 2008. Film ini berkisah mengenai tim Explosive Ordnance Disposal (EOD) Amerika Serikat selama Perang Irak.

Film ini disutradarai oleh Kathryn Bigelow dan dibintangi oleh Jeremy Renner, Anthony Mackie dan Brian Geraghty. Film The Hurt Locker pertama kali dirilis di Italia tahun 2008, ketika film ini muncul pada Venice Film Festival. Setelah ditampilkan di Toronto International Film Festival, film ini dirilis di Amerika Serikat pada tanggal 26 Juni 2009.

The Hurt Locker telah memenangi enam penghargaan Academy Awards ke-82, termasuk penghargaan Sutradara Terbaik untuk Kathryn Bigalow dan Film Terbaik.
Category: Film & Animation
Tags:
Loading...
 
  

Sign In or Sign Up now!
Loading...

Results for:

Loading...
Welcome to the new video page!

You can take a quick tour of the page's new features.

Learn more or Dismiss

Queue (0)

Loading...
Loading...